Sekolah Perempuan Hebat (SPH) Wahana Belajar Bagi Perempuan Rentan di Desa Mekar Jaya-Pacet- Kabupaten Bandung
DOI:
https://doi.org/10.31595/janaseva.v3i1.1810Keywords:
Kata Kunci: Sekolah Perempuan Hebat, Ketahanan Keluarga, Pemberdayaan Perempuan, Feminist Social Work,Abstract
Kompleksitas isu perempuan di Kabupaten Bandung, seperti tingginya angka pernikahan usia anak yang mencapai hampir 50% dan banyaknya jumlah Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE), menempatkan perempuan pada posisi subordinat dengan bargaining position yang rendah dalam keluarga. Kondisi tersebut mendorong pentingnya upaya pemberdayaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) Poltekesos Bandung ini bertujuan untuk membentuk Sekolah Perempuan Hebat (SPH) di Cipatat, Desa Mekar Jaya, Pacet, Kabupaten Bandung. SPH dirancang secara khusus sebagai institusi lokal sekaligus wadah belajar partisipatif guna meningkatkan kapasitas perempuan marginal dalam membangun ketahanan keluarga. Fokus intervensi diarahkan pada pengubahan perilaku di empat area utama, yaitu: pendidikan dan pengasuhan anak, pencegahan stunting, pencegahan/penanganan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta pengelolaan keuangan keluarga.
Metode pelaksanaan pengabdian ini menerapkan pendekatan Feminist Social Work dan Pengorganisasian Komunitas yang berjalan melalui empat tahapan terstruktur. Tahapan tersebut meliputi persiapan sosial dan pengorganisasian masyarakat, pelaksanaan (termasuk team building dan asesmen partisipatif), pelaksanaan intervensi berupa penguatan kapasitas selama empat hari, serta diakhiri dengan evaluasi dan terminasi.
Hasil evaluasi program menunjukkan bahwa pembentukan SPH berhasil mengubah kekuatan tersembunyi (hidden power) perempuan rentan menjadi kekuatan nyata (visible power) yang diakui oleh komunitas. Para peserta mengalami peningkatan wawasan yang signifikan dan mulai mengadopsi perubahan perilaku positif, terutama dalam menerapkan pola asuh ramah anak dan pemenuhan gizi untuk mencegah stunting. Meskipun pengelolaan keuangan rumah tangga masih terkendala keterbatasan finansial objektif, motivasi warga dalam berorganisasi secara terarah meningkat pesat. Validasi model menunjukkan proses berjalan sangat partisipatif. Keberadaan SPH juga mendapatkan dukungan penuh (support system) dari pemerintah desa dan dinas terkait, sehingga memiliki potensi replikasi skala nasional yang sangat tinggi melalui jaringan kerja Pendamping PKH dan Sakti Peksos.
Downloads
References
Dominelli, L., & McLeod, E. (1989). Feminist Social Work. New York: Palgrave Macmillan.
Dubois, B., & Miley, K. K. (2005). Social Work: An Empowering Profession (5th ed.). Boston: Pearson Education, Inc.
Homan, M. S. (2008). Promoting Community Change: Making It Happen in The Real World. Thomson Brooks/Cole.
Ife, J. (2002). Community Development: Creating Community Alternative Vision Analysis and Practice. Australia: Longman.
Jenkins, M. B., dkk. (1991). Feminist Social Work Practice in Clinical Settings. New Delhi: Sage Publications.
Mac Canon, L. (2002). Women and Politics. London: Sage.
Netting, F. E., Kettner, P. M., & McMurty, S. L. (2004). Social Work Macro Practice. USA: Pearson Education, Inc.
Suharto, E. (2006). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama.
Tropman, J. E. (Ed.). (1995). Tactics and Techniques of Community Intervention (3rd ed.). Illinois.
Walton, G. R. (1975). Women in Social Work. London and Boston: Routledge & Kegan Paul.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Pekerja Sosial

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.





